BEKERJALAH

Selasa, 23 April 2013

PKS, Aku Dibina Tuk Bermanfaat

 1991 awal ku membaca sebuah majalah kewanitaan…walau aku tak banyak paham dengan bahasa istilah yang tinggi karena aku hanya sekolah sampai kelas 5 SD, 5 majalah bekas ku pinjam dari tetangga yang ngontrak di samping rumah orang tua,aku membacanya dalam 5 hari, karena aku pulang kerumah orang tua dalam setahun 4-5 kali saja karena. satelah itu aku tak pernah bertemu lagi dengan keluarga itu tapi dalam memory masih membekas tahun 1995 memori itu terbangun kembali tapi dengan orang yang berbeda…yang selalu menyemangati dan terus mengajak aku walau dengan keterbelakangan akademik yang aku miliki ia Kuliah di AMIK Bani Sale di Bekasi dan selama berteman dengannya ada teman lain yang juga sama menyemangatiku ia Kulia di UI fakultas MIFA kurang lebih 5 tahun aku bersahabat dengan mereka ternyata nilai kebermanfaatan itu hingga kini masih membekas didalam aktivitas kehidupanku…. walau waktu itu yaitu pemlihan Umum pertama yang katanya paling demokratis di Indonesia yaitu pada tahun 1999 saya aktif membantu pengurus partai bulan bintang tingkat kecamatan Tambun. masa berganti masa di tahun 2000 kami berpisah dengan sahabat yang telah memberikan batu pijakan tuk pengembangan diri. ternyata walau kami berpisa secara pisik tetapi ditempat yang berbeda aku menemukan sahabat sekaligus guru yang mirip dengan karakter sahabat ku yang jauh disana dan ia adalah ketua PK waktu itu di tingkat kecamatan Cileungsi dari dia lah aku mulai memahai hakekat partai ini, selama berintraksi dengannya selama satu tahun ia berharap besar kepada ku untuk meningkatkan kemampun serta tingkatan dalam jama’ah ini agar kebersamaan semakin mudah tapi harapan tinggal harapan selama 10 harapan ia pada ku tak terrealisasi tapi. hingga aku hijrak ke pulau sumatera. kini aku bersama Barisan ini seara utuh ya di PKS terima kasih pada sahabat dan guru jika dengan uang aku tak sanggup tuk membayar mu…

Sabtu, 08 Januari 2011

Menjadi Orang Kuat
Posted by admin in 'Ibrah on 11 1st, 2010 | 2 responses

“Orang yang kuat itu bukan orang yang (tak terkalahkan) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya pada saat emosi. “(Riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
Kekuatan selalu kita ukur secara fisik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bukan menolak ukuran yang bersifat fisik, tapi ada dimensi lain yang sering dilupakan sebagian manusia, yaitu dimensi “rasa”. Justru pada dimensi itulah terletak keberadaan manusia yang sebenarnya.

Orang yang kuat, menurut Rasulullah adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya saat hatinya bergejolak marah. Pada saat seperti itu, ia mampu menahannya dengan kesabarannya dan mengalahkannya dengan keteguhan hatinya. Ia tidak membiarkan jiwanya terlepas liar bersama dengan letupan bunga api kemarahannya, yang kemudian dengan seenaknya mengeluarkan caci maki, kata-kata murka, dan omongan kotor lainnya. Ia tetap dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya agar tetap normal, rasional, dan proporsional.

Marah adalah watak yang tersembunyi pada diri setiap manusia yang sewaktu-waktu dapat terpancing oleh allergen (pemicu alergi) yang selalu ada di sekitar kita. Orang yang sehat hatinya tidak mudah terpengaruh oleh pemicu tersebut, akan tetapi bagi orang yang sudah terjangkiti penyakit “asma”, pemicu di sekitarnya dapat mengubahnya menjadi sesak nafas, bahkan tersumbat saluran pernafasannya. Begitulah gambaran orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu marahnya. Ia mudah tersulut, terprovokasi, dan terpancing oleh hal-hal yang semestinya tidak perlu sampai membangkitkan amarahnya.

Kita harus mempu memblokir semua jalan keinginan nafsu yang menghancurkan itu. Kita harus membentuk tentara yang kuat dan perkasa untuk mengendalikan nafsu yang menjatuhkan kehormatan diri dan kemanusiaan kita.

Betapa banyak orang yang jatuh kehormatannya hanya gara-gara tidak mampu menahan marahnya? Seorang akademisi tak lagi bicara ilmiah jika sedang marah. Seorang ustadz tak lagi berkata santun saat marah. Seorang ibu tak lagi berkata lembut kepada anaknya saat marah. Seorang ayah berkata dengan tindakan kasarnya saat marah. Seorang pejabat berkata dengan menggebrak mejanya saat marah. Seorang istri menangis histeris saat marah. Tidak ada yang rasional, tidak ada yang proporsional, dan tidak ada yang normal saat orang tak mampu menahan marahnya.

Apalagi jika kemarahan itu sudah bercampur-aduk dengan dendam, sakit hati, dan perasaan terhina. Kolaborasi penyakit hati ini bisa membuncah menjadi bola api besar yang membakar apa saja yang ada di depannya. Pada mulanya hanya kata-kata kotor, kasar, dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan sekadar berkata-kata, ia lampiaskan kemarahannya dengan perbuatan dan tindakan. Tak cukup dengan mencaci dan menghina, tangannya kini mulai bergemeretak, lalu memukul, menendang, melempar, bahkan membunuh, na’udzubillah.

Tak salah jika Rasulullah mendefinisikan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan marahnya. Menahan kemarahan itu membutuhkan kekuatan yang besar, lebih besar dari letupan kemarahannya. Untuk menahan nafsu marah, dibutuhkan tentara yang perkasa, lebih perkasa dari tentara yang terlatih dan terbiasa dengan membiarkan kemarahannya. * SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2010

Rabu, 22 Desember 2010

Cerita Singkat

AWAL YANG tak INDAH
Malam baru mulai menjelang dihari Selasa selepas Magrib menjelang Isya, seperti rutinitas pekanan ku menuju kendaraan untuk menuju rumah guru ku tercinta kurang lebih dua puluh menit ku menempuh ketujuan dengan agnkot biru jurusan cileungsi-cibinong walau tak sejauh itu ku menempunya, buku saku tak lupa terselip disaku depanku tuk menemi dikala sepi dikendaraan.
Angkot dengan flat F itu pun melaju perlahan sabil sebentar berhenti untuk menurunkan penumpang, terkadang menunggu pejalan kaki yang terlihat menuju kejalan raya walau terkadang tidak sesuai harapan, perlahan angkot itu terus melaju menuju tempat yang kutuju.
Waktu Isya kurang sepuluh menit lagi akupun turun dari angkot biru yang biasa tak pernah sampai penuh kunaiki, kurang lebih limaratus meter lagi baru kusampai di rumah guru yang selalu memberikan ku inspirasi, azan Isya berkumandang berbarengan dengan tibanya aku di tempat yang ku tuju.
Ba’da sholat Isya kami pun berkumpul untuk saling menasehati didalam kebenaran dan kesabaran waktu terus merajut malam pukul sepuluh sudah denting jam melodi berbunyi sudah banyak keilmuan, masalah keluarga, aktivitas kami terbahas dengan mudahnya walau tak semua terselesaikan menunggu waktu yang lain.Setengah jam kemudian doa penutup dibacakan oleh salah satu dari kami terasa sekali ikatan-ikatan hati yang satu samalain tak mengenal diawalnya dan bukan juga diikat oleh tali kekeluargaan.
Jam sebelas malam sudah mulai lewat walau belum genap lima belas menit teman-temanpun sudah mulai ijin pamit untuk pulang kerumah masing-masing, tetapi ketika aku akan pamit guruku pun berkata ” tunggu sebentar ada sesuatu yang ku sampaikan ” akupun sedikit bertanya-tanya ada apa gerangan, apa yang akan disampaikan, semua itu hanya ada didalam benak tak mampu untuk terlontarkan, akupun tak jadi untuk berpamitan. Setelah semua kawan-kawanku meninggalkanku dan perlahan-lahan tak terlihat dari halaman rumah, gurukupun masuk kedalam rumah tidak tahu apa yang akan dilakukanya. Beberapa menit kemudia iapun keluar dari dalam tangan kanannya menggenggam amplop berwarna putih.
Sedikit prolog gurukupun berkata “ bagaiamana sudah siap untuk menikah ? ” dengan agak malu-malu dan sigap akupun berkata “ dengan bismillah insyaAlloh siap ustad ”. Iapun berkata “ ini ada biodata yang akwat usianya jauh lebih tua dari antum jika antum siap ana kasih jika antum tidak siap maka ana akan kembalikan “. Insya Alloh saya siap, usia bukan sebuah patokan terkada kedawasan sesorang bukan dari paktor usia ustad tapi bagiamana ia berpolah pikir bagi bagi saya usia lebih tua tidak masalah “ itulah jawaban yang kulontarkan ke ustad ku “. Tak terasa sudah empat puluh menit kami berbincang sedikit membahas pernikahan dengan sedikit senda gurau.
Amplop putih itu terus kupandang kupegang walau tak sempat ku buka di depan ustadku, hati ini terus berdebar-debar rasa gembira dan penasaran menjadi satu, siapa gerangan yang dipilihkn oleh ustadku untukku, kumasukan amplop putih itu kedalam buku tempat ku biasa menulis aktivitas pekanan yang selalu kujalankan dengan penuh rasa semangat dan kegembiraan.
Terasa lama sekali duapuluh menit itu kurasakan didalam kendaraan yang membawaku kembali ke tempat tinggal sekaligus tempat ku bekerja, ingin rasanya kubuka amplop putih itu didalam angkot ini tetapi aku merasa tidak nyaman walau didalam mobil angkot tidak penuh, terasa serbah salah seperti diatas jok mobil ini ada sesuatu yang menggagu dudukku.
Jarum jam yang pendek sudah menunjuk hampir diangka dua belas malam walau jarum panjangnya masih di angka sembilan. Ku ambil buka tempat kusimpam amplop putih itu, sudah tidak sabar ku ingin melihat siapa si wanita yang akan dikenalkan kepadaku. Walau amplop itu tidak terekat dengan lem yang menempel karena amplop itu sepertinya sudah terpakai dan digunakan kembail. Kubaca perlahan biodata yang tercantum diselembar kertas putih itu dengan tulisan tangan yang agak rapih walau masih ada yang lebih rapih. Nama, tempat tanggal lahir, anak ke, bekerja di, dan pengahasilan, serta sedikit moto (lupa tuh ). Ku alihkan pandangan pada selembar kertas berukuran tiga kali empat berwarna hitam putih ya foto itu kita sebut hampir seluruh dunia menyebutnya foto. Foto yang mungkin sudah tidak sesuai cetaknya dengan tahun yang ku jalani waktu itu, dengan seksama kuperhatikan foto kecil itu terkadang mulut ini bergumam sendiri, terkadang tersemyum kadang pula sedikit mengerutkan wajah .
Hari demi hari kulalui kulalui dengan harapan dan doa, istikhorah salah satu petunjuk yang Alloh ajarkan kepada nabinya untuk umat yang tercinta. Berulang biodata itu kubaca dan terus kubaca, walau sempat ku berkonsultasi dengan teman di tempat satu kerja seorang wanita dia juga dalam proses yang sama, kami menikah diwaktu yang hampir bersamaan hanya beda satu pekan.
Setelah ku merasa yakin ku coba untuk berbicara kepada kedua orang tua dan orang – yang ku tuakan. Dengan suara agak berat dan datar kukatakan kepada kedua orang tuaku dan kedua orang tua angkat ku di waktu dan tempat yang berbeda “ pak, ibu (papih, mamih ) saya insyaalloh akan menikah ” . “ syukurlah kalu gitu , trus mane prempuannye ” logat betawi yang masih kental dikeluarga dan keluarga angkatku. Saya belum bisa bawa karena kami belum menikah insyaalloh kalau sudah menikah saya bawa “ jawabku “ . “ lah mau nikeh aje kaga tau orangnye, emang loe tau ape asal usulnya bisa jadi tu perempuan jande ape gak bener “ ungkapan tersebut sedikit telinga ku sedikit memerah “ . inysaalloh enggak, untuk pacaran aja dia gak mau apa lagi hal-hal yang dilarang agama “ jawabku “. ya udeh kalu gitu muda-mudahan aje bener, bapak ( papih ) cume kasih doe doang “ ungkapnya “.
Waktu terus berjalan kurang lebih tiga pekan amplop itu kupegang, kubaca, serta kuamati. Maka ku beranikan diri kepada ustadku tuk menanyakan untuk ta’aruf. Ustad jika wanita itu berkenan kapan saya bisa ta’aruf langsung “ tanyaku “. Isyaalloh akan kutanyakan ke ustadzahnya “ jawabnya “.
Belum genap satu pekan pertanyaan itu ku lontarkan, kurang lebih jam dua siang telpon tempat ku bekerja berdering waktu itu hari kamis di bulan Ramadhan pekan kedua, bagiku bunyi telpon di tempat kerja suatu yang biasa kebetulan bukan aku yang mengangkat kawan satu pekeraan denganku iapun berkata ” ada telpon untuk mu “ . “ dari siapa ? ”. gak tahu laki-laki “ jawabnya “. Akupun berbicara dengan orang diseberang sana dan ternya suara itu aku kenal dia adalah ustad ku yang lembut tapi nayring suaranya jika ketiaka ia bertilawah inysaalloh setiap orang yang mendengar akan terkesima dan akan merenungi ayat tersebut. Dengan siangkat dia katakan “ nanti malam gak ada acarakan ? kalau tidak ada datang kerumah habis magrib ! “. Insyaalloh ustad ana datang “ jawab ku “ begitulah ustad ku jika ada suatu hal yang akan dibicarakan atau butuhkan selalu singkat dan padat memanggilku. Ku tidak berpikir akan masalah ta’aruf karena aku barumengajukan dua hari dari hari ini yang kupikirkan adalah adalah agenda Ramadhan karena setiap Ramadhan kami selalu mengadakan aktifitas menyibukan untuk masyarakat.
Bada sholat magrib aku pun pamit dengan teman satu kerja dengan ku kebetulan yang punya klinik hari itu tidak datang padahal setiap hari kamis selalu datang. Dengan mudahnya aku keluar dari tempat ku bekerja, dengan angkot biru menuju rumah ustadku yang enerjik. Berbarengan dengan azan isya kusampai di tempat tujuan akupun sholat berjamaan dengan ustad dan jamah yang lain. Ba’da sholat kami melangkah kerumah ustadz sabil sedik berbincang mengenai keadaan. Setibah di depan rumah ustadz mempersilakan aku untuk masuk dan sekaligus untuk naik ke lantai atas karena istri dan anaknya sedang kerumah orang tuanya. Waktu baru menunjukan pukul dua puluh kurang tiga puluh menit.
Bagaimana sudah berbuka ” tanya ustadz ku “ sudah ustadz, sedikit air putih dan kolek beli “ jawabku “ oh ya kita nanti pergi ke griya untuk ta’aruf di tempatnya pak sugi, gimana sudah siapkan ? “ tanya ustadku “ . insyaallah siap, jadi saya kesini untuk ta’aruf ustdz ? “ walau berkata siap tetapi didalah hatiku ada sedikit keterkejutan “. Ya sudah insya alloh kita berangkat jam dua puluh lewat lima belas menit, sambil menunggu kita minum the dan sedikit kue sisa berbuka tadi “ imbaunya “.
Empat puluh menit pun berlalu akupun diperintah kan utnutk turun dan sekaligus untuk mengeluarkan motor bermerek H yang pada tahun itu agak booming penjualanya. Perlahan motor itu ku keluarkan dari dalam rumah, tidak lama berselang ustadz ku turun dari lantai atas dengan berbaju koko berwarna putih berlengan pendek. Kami pun bergegas berangkat kerumah yang kami bicarakan diawal jika kami tempuh dengan kendaraan umum mungkin baru sampai kurang lebih setengan jam baru akan sampai ketempat tujuan. Ternyata kurang dari separuh waktu kami sampai di tempat tujuan. Ternyata kami sudah di tunggu oleh tuan rumah dan tamu wanita tuan rumah tersebut, kamipun dipersilakan masuk padahal kami hanya telat kurang dari lima menit.
Memecah kebuntuan diantara kami tuan rumah mempersilakan kami untuk minum dan menyambi makanan yang memang sudah tersedia karena memang mempersiapkan untuk kami. Agar tidak terlalu larut malam sayapun dipersilakan untuk memperkenalkan diri kepada seorang wanita yang lebih awal datangnya. Akupun mulai memperkenalkan diri kembali walau biodata saya sudah dipenggan olehnya dan begitupun sebaliknya. Dari mulai nama lengkap kemudian nama panggilan, jumlah saudara kandung dan anak keberapa aku dilahirkan hingga pengasilan yang kudapat ditempat kukerja serta pekerjaan begitu juga pendidikan yang ku tempuh. Memang pada awalnya aku sedikit minder karena aku adalah orang yang tidak makan bangku sekolahan, sekolahku hanya sampai di kelas enam itupun tidak ikut ujian, hingga akhirnya aku selalu minder jika bertemua seorang wanita terutama ia yang sekolahnya berstatus mahasiswa. Dan teryata diapun berstatus mahasiswa D1 PGTK. Setelah kami saling memperkenalkan diri serta keadaan keluarga kami, di penghujung pertemua aku pun mengucapakan “ jika memang siap menerima apa yang ada pada saya kita lanjut, tetapi jika tidak siap kita sampai di sini saja “ . ya insyaalloh saya siap ‘’ jawabnya “ .
Setelah itu kami berpamitan dengan berkendaraan roda dua akupun dibonceng oleh ustadz ku. Setelah melewati pintu gerbang dan memasuki jalan raya ustadz ku menyebrangi jalan raya tersebut tidak langsung belok kiri padahal arah rumah ustadz kearah kiri. Sambil berseloroh untadzku mengatakan “ supaya ada sedikit kenangan habis ta’aruf makan bakso ok “ . oh makan bakso, aduh cukup gak ya uang yang ku bawa “ gumam ku di dalam hatiku ”. kebasaan ku jika pergi saya selalu mebawa uang dengan jumlah tidak terlalu bayak lebihya jika berpergian. Kamipun memakan bakso di tempat tersebut, terlihat oleh ku jam diding yang mempel di dinding warung bakso baru pukul duapuluh satu lewat tiga puluh menit. Sambil menunggu bakso hadir ustadz terus berseloroh serta menggodaku hingga datang pensanan yang kami minta.
Dua puluh menit pun berlalu kami beranjak dari warung bakso yang kami singgahi menuju rumah kediaman ustadz. Sesampai dirumah aku ditawarkan utuk menginap di rumahnya karena istri dan anaknya tidak ada dirumah. Aku pun menolak secara halus, karena di tempat aku kerja pagi – pagi sekali aku harus mengepel serta bersih-bersih, terkadang ketika sedang asik tidur ditengah pagi buta ada orang yang mengetuk atau memencet bel untuk berobat kadang juga hanya sekedar beli obat.
Waktu terus berlalu ramadhan hampir menghampiri masa akhirnya, setelah masa ta’aruf itu hampir lima belas hari lamanya kami tak berkomunikasi dengan ustad dan wanita yang diperkenalkan waktu itu. Dalam benakku jadi atau tidak kah saya menuju kejenjang berikutnya. Sepuluh hari menjelang iedul fitri di tempatku berorganisasi waktu itu selalu mengadakan pesantren kilat yang bertempat di islamic center Bekasi, kebetulan aku di telpon oleh adek pengurus karena sudah satu tahun aku tidak mengikuti perkembangan organisasi tersebut semenjak aku tinggal wilayah itu. Aku bergegas untuk menghadiri acara tersebut serta membantu mengisi kegitan kelompok acara tersebut.
Kurang lebih jam menunjukan pukul lima sore aku berangkat dengan mengenakan baju koko putih berlengan panjang dan satu buah buku saku berserta balpen ku selipkan di saku baju, sepuluh menit ku menunggu kendaraan tiga perempat yang akan mengantar ku ke tempat ku tujuh walau bukan satu kendaraan itu yang akan ku pergunakan . Akhirnya datang juga kenderaan tersebut ternyata didalam kendaraan tersebut penuh sesak penumpang aku tidak mendapat tempat duduk akupun berdiri dengan bersadar dikursi sambil membaca buku yang memang sudah ku persiapkan sebelumnya. Tidak lama kemudian setelah tiba di perempatan terminal bayangan didaerah tempat ku bekerja ada seorang wanita berjiban hitam beserta kabel workmennya menjulur dari telinganya ia pun melewatiku dan berdiri si sampingku mendekati dua orang wanita berjilbab putih dan merah muda mungkin mereka sudah saling mengenal karena meruka dengan mudah bertegur sapa.
Kendaraan yang ku naiki terus melaju dengan perlahan, samabil ku membaca buku aku mendengan sayup-sayup apa yang mereka bicarakan pada awalnya aku tidak terlalu menghiraukan , sepertiga perjalanan ada seorang penumpang yang turun kursi yang kusandari kosong karena di di samping ku ada seorang wanita berjilbab hitam yang masih berdir maka ku persilakan ia terlebih dahulu akhirnya pembicaraan mereka bertiga semakin ramai karena wanita berjilbab hitam itu duduk lurus bersampingan . pembicaraan mereka semakin jelas kudengar , aku masih tetap asik membaca buku yang bersampul biru lembut ku beli di toko buku sinar agung di Bekasi berjudul “ Rekayasa sosial dalam pernikahan “ tetapi keasikan ku membaca buku agak terusik oleh salah satu suara wanita berjilbab tersebut. Memang aku tak paham dengan suara tiga wanita berjilbab itu tetapi ada beberapa kata yang teringat didalam ucapan salah satu wanita berjilbab itu yaitu soal proposal pendidikan yang diajukan olehnya kestaf perusahaan di tempat ia bekerja. Ku coba membuka memori ku yang tersimpan, dimanakah ku pernah mendengar kata-kata itu, ku coba terus mengiatnya. Konsentrasi membaca buku semakin buyar aku berusaha untuk melihat atau memperhatikan tetapi rasa malu yang ada membuat ku membuat ku hanya melirik saja tetapi masih tak jelas untuk melihatnya. Agak lama aku mengingat-ingat siapa gerangan satu dari tiga wanita berjilbab itu terutama yang berjilbab Pink dan berbaju pink bermotif bunga putih, akhirnya aku mulai mengingatnya ya wanita itu….. ! YA wanita itu adalah wanita yang aku ta’aruf di malam jumat lima belas hari yang lalu.
Baru saja aku mengingatnya kendaraan yang kami tumpangi sampai di simpangan. Aku pun turun untuk berganti kendaraan untuk menuju ke Islamic Center , aku tidak tahu apakah tiga wanita itu turun atau tida k padahal aku berharap bisa sedikit berkomunikasi dengan salah satu dari mereka. Aku masuk kendaraan angkot berwarna orange bertulisan angka 25, aku duduk di kursi paling ujung belakang di deretan empat ternyata tiga wanita tersebut ikut turun dan satu mobil kembali dalam hatiku apakah ini kebetulan atau takdir yang Alloh tentukan untuk ku. Aku berpikir bagaimana caranya berbicara dengannya jarakku dengannya terhalang dua orang akhirnya aku menulis diselembar kertas blok note yang beriringan dengan buku yang kubaca kutulislah nomor telepon tempat ku bekerja. Jika kuberikan sekarang kertas ini akan ada tanda tanya dari teman yang bersamanya.
Kurang dari sepuluh menit kami sampai di lampu merah MM Bekasih aku ragu untuk turun atau tidak memang pintu gerbang Islamic Center kurang seratus meter lagi ternyata ia turun di tempat ini aku mengikutinya turun sambil mengejarnya, kebetulan wanita berjilbab putih itu sedang membayar ongkos angkot. Aku langsung menghampiri seraya memberi salam dan untuk tindak lanjutnya bagaimana untuk komunikasi kedepat lewat nomor telepon ini saja “ kata ku “ aku memberikanya di tengan jalan raya penyeberangan lampu merah yang menuju Islami Center. Setelah itu aku berlalu darinya karena temannya yang berjilbab putih hampir menyusulnya .
Setelah pertemuan itu kami agak mudah berkomunikasi walau kemudahan berkomunikasih yang kami peroleh kami hanya berkomunikasi dalam kondisi penting saja. Kok baru ta’aruf saja bisa berkomunikasi terus. Ustad kami menginginkan acara khitbah dibarengkan dengan acara akad nikah jadi di usahakan ketika khitbah surat – surat nikah sudah siap. Lima hari setelah pertemuan itu komunikasi kami sangt intensip via telepon karena kurang lebih dua atau tiga hari kedepan akan ada libur Iedul fitri, aku disarankan oleh ustad untuk membuat surat permohonan pindah nikah karena sekalian dia pulang kampung untuk membawa dan sekaligus membaritahukan kepada orang tuanya. Saya menayakan kepadanya “ bagaimana kalau sebelum pulang kampung membawa surat numpang nikah agar tidak bolak balik bisa tidak ? tanayaku “ iapun menyanggupinya. Setelah selesai membuat surat-surat, akupun menyerakannya kepada ustad ku untuk untuk diserakan kepadanya.
Iedul Fitri sudah berlalu aktifitas pekanan kami berjalan seperti biasa, ternyata pertemuan ini adalah akan pertmusn terakhir dengan ustadku karena dua pekan lagi aku di pindahkan ketempat yang lebih jauh, “ aku sempat menanyakan bagaimana kelanjutan kami ? “. Ia hanya menjawab riangan nanti kita tangai bareng-bareng “ ya hanya itu jawabnnya”
Bulan syawal hampir memasuki hari yang ke dua puluh, sebelum aku dipindahkan ke ustadku yan baru teman – teman menyarankan untuk tetap mengkhitbah dan khitbah tidak berbarengan dengan akad. Setelah sekian lama di musyawarakan kami besepakat untuk tetap melaksanakan khitbah. Kami bersepakat untuk berangkat pada hari sabatu malah ahad dan ahad harus sudah balik lagi ke Bogor. Waktu sudah kami seting dengan baik, kami akan berangkat berempat aku dua teman ku serta dia. Satu hari sebelum berangkat aku jatuh sakit, aku harus mondar madir ke kamar kecil untuk buang hajat yang diiringi dengan panas yang tinggi. Keesokkan harinya aku tak mampu untuk bangun dari tempat tidur. Ketika menjelang sore aku berusaha untuk menelpon teman-teman ku yang akan berangkat serta dirinya untuk memberitahukan akan kondisiku. Ba’da magrib teman-teaman ku datang melihat kondisi serta setuasi jika memang bisa berangkat ya berangkat. Setelah berunding beberapa saat kami memutuskan tidak berangkat karena pertimbang kondisi ku yang masih lemas. Kawatir dengan perjalanan yang akan di tempuh dua belas jam skan membuat stamina akan bertambah drop untuk mengantisipasi hal itu kami mambatalkan untuk khitbah pada saat itu.Kami sempat memberitahukan wanita tersebut, dan kami pikir dia tidak jadi berangkat pula ternyata ia tetap pulang sendiri.
Di hari ahad siang aku agak mampu untuk bergerak, karena di tempat aku bekerja merasa tidak nyaman untuk istirahat akupun memutuskan untuk beristirahat di tempat lain, ditempat sebelum aku bekerja. Di bilangan Tambun Bekasi masjid Attaqwa tambun tepatnya tempatku berhimpun membangun masyarakat uantuk mengamalkan Islam terutama remaja yaitu IRISMAT ( Ikatan Remaja Masjid AtTaqwa Tambun) kurang-lebih lima tahun aku berkecimpung di remaja massjid tersebut dan sekaligus tempat tinggal ku.
Waktu magrib pun tiba akupun sampai di masjid yang aku tuju, ku ambil air wudhu untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Ba’da sholat berjamaah aku sedikit berramah tamah dengan teman-teman ku yang sudah hampir satu tahun aku tinggalkan. Ku sempatkan utuk mengajar serta bercengkramah dengan murid-murid ku yang masih mengingatku pulaha anak-anak yang mengaji di masjid masih setia dengan guru yang setia pula.
Satu hari pun berlalu ya hari itu hari selasa jam dua tepatnya, aku mendapat telpon dari tempat ku bekerja teman wanita ku memberitahukan ku bahwa aku sudah dua hari ini dicari katanya dari ustdanya. Hanya dialah yang tahu nomer telepon tempat aku tinggal, karena aku sebelum aku bekerja di tempat itu aku satu organisasi di jakarta. Kucoba untuk telpon ustadz ku, ternyata benar saja bahwa aku sudah dicari dari hari senin kemarin. Kemana saja sih ! di cari dari kemarin gak ada kabarnya sama sekali “ ungkapnya “. Dengan ringan aku menjawab “ mencari tempat istirahat yang nyaman “. Hari ini juga harus kembali ke Bogor karena calon bapak mertuamu ada di sini ! “ serunya “ . aku agak terperangah dan terdiam sebentar, ya aku akan ke Bogor sekarang “ jawab ku “. Sebelum jam enam harus sudah di Bogor “ imbaunya lagi “.
Didalam benakku ternyata Dia pergi jadi berangkat kelampumg dan kembali ke Bogor membawa orang tuanya. Nanti apa yang aku akan lakukan dengan waktu yang serba mendadak ini. Perjalanan normal dari Tambun ke Bogor kurang lebih satu setengah jam belum sama macetnya pikir ku sedangkan waktu sudah jam setengah tiga waktu ashar sebentar lagi tiba. Tampa banyak berpikir aku segera berpamitan kepada teman yang ada tempat saja. Walau sambil jalan dan di perjalan aku serba salah.
Kurang lebih jam lima aku sampai di rumah ustad ku, aku tidak mampir ke tempat ku bekerja, tidak akan kekejar jika aku harus mampir, belum jika ada pasti aku akan di suruh-suruh. Aku mengucapkan salam di depan rumah ustadz kepada keluarga sang ustadz yang sedang duduk di bale-bale sambil menanyakan keberadaan sang ustadz. Terdengan olehku suara sang ustad dari dalam memperkenankan ku untuk masuk. Tunggu lima belas menit lagi kita berangkat “ katanya “. Ternyata ia langsung kekamar mandi untuk mandi.
Setelah semuah selesai kami pun berangkat dengan kendaraan roda dua kepunyaan ustadz ku, menemui janji dengan kawan ustad di suatu tempat di sekitaran pabrik semen tiga roda sepuluh menit kami sampai ditempat yang kami tuju, berbarengan dengan suara azan magrib, kami lalu melaksanakan sholat magrib di masjid tidak jauh dari tempat tinggal wanita itu kurang lebih lima puluh meter jauhnya. Ba’da sholat magrib kami kerumah kontrakan wanita tersebut disambut oleh seorang laki-laki yang sepantaran ku usianya hanya saja lebih pendek dariku beserta bapak setengah baya yang hampir sama tingginya. Ustad ku dan temanya hanya sembertar menemaniku bercakap-cakap kurang dari sepuluh menit mereka berpamitan karena ada kegiatan yang tidak bisa di tinggal, akhirnya aku sendiri berhadapan dengan calon bapak mertua ku. Ternyata calon mertuaku tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia selalu menggunakan bahasa jawa aku sedikit kikuk jadinya. Dalam hatiku “ dah gak ngerti bahasa Jawa di tinggal sendiri lagi gimana mau ngomongya ni, bismilah ajalah ”.
Ketika aku berkata saya ingin melamar anak bapak. Mungkin waktu itu berbunyinya semerti ini “ enko enteni anaknya urung mulih “ mungkin itu yang di ungkapkan olehnya. Di terjemahkan oleh anak bapak tersebut “ embanya belum pulang masih kuliah paling jam sebelas malam baru datang “. Akhirnya aku ngobrol dengan calon mertua dengan basaha ngerti sama ngerti walau terkadang ada bahasa yang memang membutuhkan penjelasan lagi. Ketika waktu sholat Isya kami sholat berjama’ah berempat dengan seorang wanita yang ternyata adeknya. Dan akupun didaulat untuk menajdi imam padahal aku sudah berusaha untuk menolaknya tidak layak seorang tamu menjadi imam pada tuan rumahnya. Tak terasa jam sebelas lewat seperempat ternyata sudah lama sekali aku berbincang dengan calon mentua aku dari jam enam tiga puluh sampai dengan jam sebelas lebih masih berbincang yang empar jam lebih kami berbincang. Akhirnya yang di harap-harap datang. Ya hanya lima belas menit kedatangannya aku berpamitan untuk pulang karena calon bapak mertua ku hanya ingin mendengan jawaban dari anaknya siap atau tidak itu saja. Akhirnya akupun berpamitan pulang sambil bersykur Alloh memberikan kemudahan dalam proses khitbah tersebut.
Bulan Sawal sudah dalam penghujung aku didalam pengajian ketempat yang lebih jauh lebih dari satu jam perjalanan. Dalam hitunganku waktu pernikahan kami kurang dari tiga pekan lagi. Ustadz ku yang baru menanyakan bagi mana proses persiapan pernikahan isyaalloh siap walau dari segi pembiayaan tranportasi hanya untuk tiga orang saja yang saya persiapkan. Karenan memang aku tidak mempunya tabungan yang besar dan aku pun tak pernah berniat untuk meminta dari orang tua untuk permbiayaan pernikahan ku. Dan aku juga bersyukur karena ketika aku mengkhitbah orang tua wanita tersebut tidak akan mengadakan acara besar-besaran hanya tasyakuran saja.
Setelah aku sedikit bercerita kepada ustadz dan teman-teman akhirnya kami memutuskan untuk bermusyawarah. Pembahasanya yang dibahasa terutama masalah pembiayaan dan khitbah kedua untuk memastikan ulang. Sekian lama kami bermusyawarah akhirnya di putuskan :
1. Semua teman-teman agar membantu pembiayaan pernikahan ku minimal yang akan dibawanya satu jutaan.
2. Agar berangkat ke rumah calon mertua untuk memastikan kembali acara pernikaha tersebut dan juga agar tahu rumah calon mempelai.
Setelah keputusan tersebut kami berempat berangkat seperti pada rencana sebelumnya pada hari sabtu malam Ahad. Kami tiba di ahad pagi kami disambut dengan baik karena memang sudah di informasikan pada malam sebelumnya. Ungkapan – ungkapan awal terlontar kembali. Insyaalloh tidak ada acara hajatan hanya tasyakuran saja yang penting pada selamat. Kurang lebih dua jam kami ngobrol dengan tuan rumah dan kamipun pamit pulang.
Acara pernikahan kami semakin dekat kurang dari dua pekan kurang lebih empat kali pertemuan kami gelar untuk membahas skema acara pra acara agar kedepan tidak terjadi masalah. Satu demi Satu setiap masalah kami uraikan dan kami putuskan bagaimana acara dan metode perjalanan yang akan ditempuh.
Lima hari sebelum acara aku bertemu dengan orang tua untuk mamastikan kembali akan pernikahan ku serta tanggal pernikahn yang akan aku langsungkan. Aku sedikit terperanjat ternyata orang tua ku mengoltimatum untuk tidak akan menghadiri pernikahan jika tidak melihat perempunanya, aku agak bingung bagaimana aku akan mengajaknya padahal aku belum menjadi pasangan resmi. Akhirnya aku berkonsulatasi dengan ustad lama ku dan ia mengijankan jika itu tidak hal tersebut idak menimbulkan mudorot. Setelah melihat dan berbincang sebertar akhirnya orang tuaku melunak dan akan menghadiri acara perniahanku.
Hari itu di bulan Pebruari pada tanggal 12 tahun 2001 bertepatan dengan bulan Dzulqodah, kami bersiap untuk berangka menujuh pulau Sumatra tepatnya di Propinsi Lampung. Skanario yang kami rancang pada waktu-waktu sebelumnya menjadi kandas dan brantakan semua walau ada bebarapa bagian yang memang sesuai dengan scudle yang pasti. Rencana kami brantakan karena ada masalah di kendaran dan juga jalan raya yang terkena banjir terutama tol jakarta- merak karena jalan tercepat untuk menuju pelabuhan merak hanya itu, karena kami mendapat informasi jalur tersebut macet akhirnya kami menempu jalur Bogor – tangerang ternyata tak satupun dari kami yang tahu jalur tersebut, kami haynya mengikut jalur jalan yang beraspal walau akhirnya kami sampai di kota Serang, ketika kami hendak masuk tol banjir masih menggenangi jalan tersebut kami mengurungi dan mengambil jalan lain yang kami juga tidak tahu jalan dan akhirnya kami tembus di pinggir pantai anyer, kami terjebak air pasang dan pasir alhamdulillah teryata ada tiga kendaraan lain di belakang kami yang mengikuti akhirnya kami saling membantu hingga semua selamat dari jebakan pasir laut. Ternyata kendala yang kami hadapi tidak hanya di situ ketika kurang lebih sepuluhnkilo lagi kami sampai di pelabuhan merak kendaraan telah menumpuk hendak masuk pelabuhan. Perjalanan kami dari Bogor – Merak kami tempung selama sepuluh jam itu pun belum masuk kedalam dermaga kurang dari sepuluh kilometer lagi. Kami menunggu kemacetan dari jam tujuh sore akhirnya kami sampai di depan kapal Ferry jam tiga pagi dan kami bersyukur akan masuk ternyata Alloh tidak mengingikan itu terjadi mobil kami tertunda di depan kapal Ferry, padahal waktu pernikahan kami kurang dari lima jam lagi akhirnya kami bermusyawarah bagiamana ini, akhirnya diputuskan kami tidak semua rombongan berangkat dan mobil kembali kebogor.
Setelah keputusan itu bersembilan kedua orang tuaku, nenek, serta temanku beserta istri dan ketiga anaknya kami menggunakan kapal Ferry yang pintunya sudah tertutup untuk kendaraan, waktu tempuhku ketujuan kurang lebih tujuh jam lagi sedang waktu yang kami punya hanya kurang dari lima jam, akupun terus berdoa kepada Alloh apaun yang terjadi itulah yang terbaik bagiku.
Jam tujuh pagi akhirnya kami sampi di pulau sumatera dengan modal keberanian yang ada ku coba untuk terus melaju ketempat yang ingin kutuju karena terus terang tak ada satu orang pun diantara kami yang mengetahui tempat tujuan karena orang yang akan menjadi penunjuk jalan kami sduah lebih dahulu berangkat karena mendapat informasi dari orang yang idak bertanggung jawab. Akhirnya akupun berangkat dengan modal tawakal kepada Alloh, walau aku sudah perna sekali kerumahnya tetapi itu di malam hari jadi aku tak tahu aranya.
Kucoba mendekati kendaraan yang terparkir berjejer di terminal Bakauheni banya jenis merek kendaraan dari yang agak bagus dan ada yang bodinya sudah ditambal-tambal. Mobil travel yang berjejer beserta supirnya sebelum aku menanyakan ada salah satu dari mereka menanyakan “ mau kemana mas ? “ . sedikit pelan kujawab “ ke wates “. Dua ratus lima puluh ribu “ pintanya “. Akupun menawar separonya akhirnya kami tidak sepakat. Akupun berlalu darinya, kurang dari dua puluh meter dari orang tersebut ada seorang laki-laki berbaju hitam menghampiriku menanyakan hal yang sama, akupun dengan jawaban yang sama. Awal ia menolak akhirnya kami sepakat dengan sarat kami naik kendaraannya harus keluar area terminal dan ia diperbolehkan mencari dua penumpang lagi.
Selama perjalanan aku berbincang dengan pengemudi tersebut, ia menanyaka bawaan yang ku bawa yaitu baju jas yang aku bawa. Mau menghadiri pernikahan ya ? “ tanyanya “ . akupun menjawab singkat “ ya “. Siapa ? “ tanyanya lagi “. Sebelum aku menjawb ia langsung menebak, “ kamu ya ? “. Aku hanya menjawab “ Ya “. Acaranya kapan ? “ tanyanya” . hari ini jam sembilan “ jawabku”. Hah “ ia sedikit tersentak “ jam sembilan ! sekarang saja sudah jam sepuluh paling tidak satu jam setengah lagi kita sampai, ya sudah aku tidak cari penumpang lagi tapi nanti mampir kerumah untuk abil budehku sekalian pergi berobat ke arah yang sama “ katanya “ tampa banyak kata lagi akhirnya ia mentancap gas. Akupun mengatakan kepadanya pahwa saya belum pernah sama sekali tau tempat yang akan saya tuju, lalu aku ceritakan nama tempat dan persis-persinya, lalu ia menjawab dengan ringan “ oh daerah itu saya tahu banget tenang saja jangan kawatir nanti saya antarkan!. Dengan jawaban yang ringan itu aku merasa tenang. Akupun bersyukur ternyata Alloh mempunyai rencana lain terhadapku.
Akhirnya pada tanggal 13 bulan februari 2001 aku menikan dengan seorang wanita yang bernama Julika walau usianya lebih tua tujuh tahun dariku. Pada jam 11.30 walau tidak sesuai dengan rencana.

Mohammad hatta ,Desember 4, 2010 Djulhijah, 27, 1431 H
Bumisari (lamteng)